Hari ini saya menghabiskan waktu dengan teman lama. Ngobrol kesana kemari. Bahas hal-hal standar dan update cerita kehidupan masing-masing. And soon, we start comparing things between then and now. Betapa banyak sekali hal yang berubah selama beberapa tahun terakhir, and not even in our wildest fantasy of how things actually ended up. If I could go back in time and tell myself in the past that this is how things actually ended up, I would not believe it. Saya jadi mau bahas tentang perubahan.
Change really is inevitable. Dan sudah menjadi sifat hakiki bahwa waktu akan mengikis apapun yang tetap diam. Perubahan itu sendiri tidak selalunya disadari oleh lingkungan sekitar. Namun, satu hal yang pasti, jauh di dalam diri, perubahan tersebut pasti terasa. Bahkan kita sendiri tidak lagi sama seperti kita satu menit yang lalu.
“Your life looks different because it’s filled with houses and husbands and kids. And mine looks the same, but I’m not. I’ve changed. I’m doing this alone. And that’s just as hard as what you’re doing.”
-Cristina Yang, Grey’s Anatomy Season 10 Episode 12-
Gara-gara ngebahas ini saya jadi inget satu scene di serial Grey's Anatomy dimana Cristina Yang argues with Meredith Grey about their lives. Just because your life is filled with husbands and houses and kids, and mine's not, doesn't mean that I'm still the same person as I was. Because things around us might stay the same, but we're not.
Perubahan tidak selalunya something physical or material. Maksutnya bukan berarti satu tahun lalu saya masih sekolah dan sekarang sudah lulus. Change might not always something we can point our finger to. It includes how you see the world. How you see yourself. How you feel about those things you did back then. How you look for the meaning of life in the things surrounding you. Change is, you, running out of words and excuses, and lost in translation of how things were back then and how things turned out to be just now.
Change is hard. It blurs the line. It makes you question who you are and what you want in life. Change is something you never saw coming. It creeps you up on the inside. Turns you into something else. Something you never thought would happen. And if you don’t recognize yourself good enough, you might get lost inside it.
So, get to know yourself. Go deep beneath you. Feel your purpose within. Because life might turn things into something you never even imagine. And that’s your job to not lose yourself in the process.
Serendipity
Rabu, 21 Oktober 2015
Sabtu, 06 Juni 2015
Simple, Yet Complicated
Sebenarnya ide cerita ini sudah dari hampir 1 minggu lalu. Tapi karena saya procrastinate, trus jadi terlupa. Sekarang baru inget lagi dan akan saya coba ceritain.
Jadi saya sedang dalam perjalanan pulang dari Malingping ke Bekasi. Rute perjalanan pulang saya adalah Malingping-Rangkasbitung by bus, Rangkasbitung-Jakarta by train. Bis yang saya tumpangi dari Malingping ke Rangkasbitung tuh bis RUDI, no ac, Alhamdulillah saya masih dapat kursi. Dan sepanjang perjalanan bis saya beberapa kali berhenti karena buka-tutup jalan, karena lagi dicor. Jadi setiap berhenti beberapa penjaja makanan kecil dan minuman naik ke dalam bis untuk menjajakan dagangannya. Saya pernah dibilangin sama om, kalo lagi dalam perjalanan gitu usahakan beli lah salah satu dagangan mereka. Entah minuman, tissue, atau apapun. Kata om saya, mereka juga akan bantu mendoakan keselamatan kita dalam perjalanan. So I did.
Anyway, salah satu penjaja makanan tersebut adalah seorang ibu muda. Saya beli tissue dari ibu tersebut. Terus salah satu penumpang yang duduk di depan saya nanya ke ibu muda tersebut. Percakapan ini dalam bahasa sunda by the way, tapi saya simplify aja pake bahasa indo. Intinya penumpang depan saya nanya ibu ini gimana baliknya lagi ke kota. Karena ga mungkin terus-terusan nunggu bis di tengah rute untuk jualan. Ibu muda itu jawab, dengan gayanya yang sedikit jenaka, bahwa dia numpang mobil apa aja yang mau ditumpangi untuk balik lagi ke kota. Mau mobil pickup, mobil losbak, apa aja. Ga sedikitpun mengeluh bahwa disitu panas terik dan berdebu karena ditengah-tengah construction work jalan.
Lucu ya hidup ini. Mungkin ibu itu ga mikirin tentang hal-hal besar di dunia ini. Ibu itu ga mikirin bahwa dollar terus naik. Ibu itu juga ga mikirin pasien post op saya tadi recovery nya bagus ga, jaitannya nyambung ga. Ibu itu mungkin ngga mikirin apa yang saya dan kamu pikirkan. Setiap hari yang di benak dia hanya numpang mobil, ke tengah rute jalan untuk jualan, sorenya balik lagi, numpang mobil ke kota (yang belum jelas mobil apa, belum jelas juga bakal ada atau tidak mobil tumpangannya). Gitu aja setiap harinya. Tapi dia pasti mikirin, besok makan apa? Besok masih bisa makan ga? People’s lives are somehow so simple, yet so complicated. Mungkin ibu itu ga mikirin hal-hal ribet yang kita pikirin setiap harinya. Tapi ibu itu memikirkan satu hal paling pelik setiap harinya. Bagaimana cara dia menyambung hidupnya dan keluarga, hari demi hari. Day in, day out. Night in, night out. Dan kita, percaya bahwa setiap harinya kita menghadapi masalah demi masalah krusial yang meyangkut hidup kita. Tanpa tahu dan sadar bahwa radius beberapa kilometer saja, orang berjuang setiap harinya menghidupi hidup.
Jadi saya sedang dalam perjalanan pulang dari Malingping ke Bekasi. Rute perjalanan pulang saya adalah Malingping-Rangkasbitung by bus, Rangkasbitung-Jakarta by train. Bis yang saya tumpangi dari Malingping ke Rangkasbitung tuh bis RUDI, no ac, Alhamdulillah saya masih dapat kursi. Dan sepanjang perjalanan bis saya beberapa kali berhenti karena buka-tutup jalan, karena lagi dicor. Jadi setiap berhenti beberapa penjaja makanan kecil dan minuman naik ke dalam bis untuk menjajakan dagangannya. Saya pernah dibilangin sama om, kalo lagi dalam perjalanan gitu usahakan beli lah salah satu dagangan mereka. Entah minuman, tissue, atau apapun. Kata om saya, mereka juga akan bantu mendoakan keselamatan kita dalam perjalanan. So I did.
Anyway, salah satu penjaja makanan tersebut adalah seorang ibu muda. Saya beli tissue dari ibu tersebut. Terus salah satu penumpang yang duduk di depan saya nanya ke ibu muda tersebut. Percakapan ini dalam bahasa sunda by the way, tapi saya simplify aja pake bahasa indo. Intinya penumpang depan saya nanya ibu ini gimana baliknya lagi ke kota. Karena ga mungkin terus-terusan nunggu bis di tengah rute untuk jualan. Ibu muda itu jawab, dengan gayanya yang sedikit jenaka, bahwa dia numpang mobil apa aja yang mau ditumpangi untuk balik lagi ke kota. Mau mobil pickup, mobil losbak, apa aja. Ga sedikitpun mengeluh bahwa disitu panas terik dan berdebu karena ditengah-tengah construction work jalan.
Lucu ya hidup ini. Mungkin ibu itu ga mikirin tentang hal-hal besar di dunia ini. Ibu itu ga mikirin bahwa dollar terus naik. Ibu itu juga ga mikirin pasien post op saya tadi recovery nya bagus ga, jaitannya nyambung ga. Ibu itu mungkin ngga mikirin apa yang saya dan kamu pikirkan. Setiap hari yang di benak dia hanya numpang mobil, ke tengah rute jalan untuk jualan, sorenya balik lagi, numpang mobil ke kota (yang belum jelas mobil apa, belum jelas juga bakal ada atau tidak mobil tumpangannya). Gitu aja setiap harinya. Tapi dia pasti mikirin, besok makan apa? Besok masih bisa makan ga? People’s lives are somehow so simple, yet so complicated. Mungkin ibu itu ga mikirin hal-hal ribet yang kita pikirin setiap harinya. Tapi ibu itu memikirkan satu hal paling pelik setiap harinya. Bagaimana cara dia menyambung hidupnya dan keluarga, hari demi hari. Day in, day out. Night in, night out. Dan kita, percaya bahwa setiap harinya kita menghadapi masalah demi masalah krusial yang meyangkut hidup kita. Tanpa tahu dan sadar bahwa radius beberapa kilometer saja, orang berjuang setiap harinya menghidupi hidup.
Minggu, 12 April 2015
Overwhelmed
Weddings are, and always have been, overwhelming. You become overwhelmed with the beauty. Of the glowing happiness, inside and out. Of something strangely new and challenging. Satu hari saja yang bermakna berpindahnya segala fase hidup yang dijalani. Menandakan sebuah metamorfosis. Dan segala sesuatu yang bermetamorfosis umumnya menjadi lebih indah. Menurut saya.
Attending someone else's wedding makes you think of your own. If you're not married yet, it makes you wonder how yours would be like. Menurut saya, ada alasannya mengapa pengantin mempunyai singgasana khusus menghadap para tamu yang datang. Bukan, bukan karena mereka adalah raja dan ratu sehari. Namun, karena mereka adalah cerminan. Because weddings make you think of your own.
For those who got married today, i hope you will always be overwhelmed. Overwhelmed with joy and happiness. Overwhelmed with something to be grateful for, because for the first time in your life, you are absolutely and overwhelmingly not alone. Be grateful for those dreamy nights and cheerful days ahead of you. Be grateful, even when you're having a rough day, you can always come home to an open and embracing heart waiting for you.
Attending someone else's wedding makes you think of your own. If you're not married yet, it makes you wonder how yours would be like. Menurut saya, ada alasannya mengapa pengantin mempunyai singgasana khusus menghadap para tamu yang datang. Bukan, bukan karena mereka adalah raja dan ratu sehari. Namun, karena mereka adalah cerminan. Because weddings make you think of your own.
For those who got married today, i hope you will always be overwhelmed. Overwhelmed with joy and happiness. Overwhelmed with something to be grateful for, because for the first time in your life, you are absolutely and overwhelmingly not alone. Be grateful for those dreamy nights and cheerful days ahead of you. Be grateful, even when you're having a rough day, you can always come home to an open and embracing heart waiting for you.
Jumat, 10 April 2015
To be whole and healed
Kelamaan ga nulis itu bikin otak beku. Trus lama-lama saya jadi bingung mau nulis apa. But let me start simple. Sekarang saya stase IGD di RSUD Malingping. Kebanyakan orang bakal gatau ini dimana. Let me just say, ini jauh banget dari Plaza Senayan. Ada yang lagi heboh sekarang. Dua hari lagi bakal ada hajatan sepupu saya nikah. Sepupu saya seumur sama saya. Trus pada suatu pagi perawat di rumah sakit bilang ke saya gini :
P : dok, denger-denger dokter Imy mau nikah ya?
I : hah? Kata siapa teh?
P : ih saya dengernya sih gitu dok..
I : ah belom kok.. Itu sepupu saya yang mau nikah. Saya belom..
P : trus dokter kapan?
I : kapan ya teh? (Senyum kecut)
P : emang dokter umurnya berapa?
I : dua-empat..
P : ih yaampun dook... (Nada meninggi, mukanya rada mengkerut-kerut)
I : yaampun kenapa teh? (Cengok)
P : UDAH DUA EMPAT KOK BELOM MAU NIKAH DOK?
I : (gua pura-pura kejang)
Gak lah, gak kejang tonik klonik. Cuma petit mal aja. HAHA GAK LAH.
One day you're seventeen. And you own the world. You rule your world. But then you blink, and suddenly you're twenty-four. Banyak orang ga sadar ini, tapi ternyata seiring dengan waktu bergulir, umur bertambah, banyak hal yang terlewati. Saat kita sibuk menjalani hidup, orang lain juga sibuk menjalani hidup masing-masing. Lalu semua hal yang tadinya terasa penting, menjadi tidak lagi penting. Tentang si ini si anu yang kuliah kesini kesitu, sekarang sudah menikah dan punya anak. Tentang tempat ini itu yang biasa kita duduk pulang sekolah makan roti bakar, ternyata sudah berganti menjadi tempat wisata high-end. Lalu kita? Kita berubah menjadi this whole different person. So different that if we look into the mirror, we'll start looking at someone else.
Tawa berubah menjadi senyum. Senyum berubah menjadi kerut. Dunia yang tadinya adalah milik kita bersama, sekarang masing-masing menciptakan dunianya sendiri. Lalu tenggelam di dalamnya. Seperti sibuk menggali ke dalam tanah, dan saat selesai menggali, dunia di atas sudah tidak lagi sama. The thing about growing up is that we get to experience things. Good things. Bad things. Terrible things. This is not something that anybody tells you, but once you pass those horrible things, you became somebody else. Some people who come out from those things are broken and forever left unmended. And once they're broken, the pieces don't completely fit anymore. So that's why we start searching for other things to glue the broken pieces together. To hold the picture from crumbling to pieces.
Some people found their pieces glued together perfectly with the help of others. Some people are left holed in the chest with nothing bleeds but feeling incomplete. Some people are happy the way they used to be. Some people are holding on to memories to keep them from being empty. Some people forgot to be happy they lost their way back to be happy again. But it is simply what everyone wants. To be whole and healed.
P : dok, denger-denger dokter Imy mau nikah ya?
I : hah? Kata siapa teh?
P : ih saya dengernya sih gitu dok..
I : ah belom kok.. Itu sepupu saya yang mau nikah. Saya belom..
P : trus dokter kapan?
I : kapan ya teh? (Senyum kecut)
P : emang dokter umurnya berapa?
I : dua-empat..
P : ih yaampun dook... (Nada meninggi, mukanya rada mengkerut-kerut)
I : yaampun kenapa teh? (Cengok)
P : UDAH DUA EMPAT KOK BELOM MAU NIKAH DOK?
I : (gua pura-pura kejang)
Gak lah, gak kejang tonik klonik. Cuma petit mal aja. HAHA GAK LAH.
One day you're seventeen. And you own the world. You rule your world. But then you blink, and suddenly you're twenty-four. Banyak orang ga sadar ini, tapi ternyata seiring dengan waktu bergulir, umur bertambah, banyak hal yang terlewati. Saat kita sibuk menjalani hidup, orang lain juga sibuk menjalani hidup masing-masing. Lalu semua hal yang tadinya terasa penting, menjadi tidak lagi penting. Tentang si ini si anu yang kuliah kesini kesitu, sekarang sudah menikah dan punya anak. Tentang tempat ini itu yang biasa kita duduk pulang sekolah makan roti bakar, ternyata sudah berganti menjadi tempat wisata high-end. Lalu kita? Kita berubah menjadi this whole different person. So different that if we look into the mirror, we'll start looking at someone else.
Tawa berubah menjadi senyum. Senyum berubah menjadi kerut. Dunia yang tadinya adalah milik kita bersama, sekarang masing-masing menciptakan dunianya sendiri. Lalu tenggelam di dalamnya. Seperti sibuk menggali ke dalam tanah, dan saat selesai menggali, dunia di atas sudah tidak lagi sama. The thing about growing up is that we get to experience things. Good things. Bad things. Terrible things. This is not something that anybody tells you, but once you pass those horrible things, you became somebody else. Some people who come out from those things are broken and forever left unmended. And once they're broken, the pieces don't completely fit anymore. So that's why we start searching for other things to glue the broken pieces together. To hold the picture from crumbling to pieces.
Some people found their pieces glued together perfectly with the help of others. Some people are left holed in the chest with nothing bleeds but feeling incomplete. Some people are happy the way they used to be. Some people are holding on to memories to keep them from being empty. Some people forgot to be happy they lost their way back to be happy again. But it is simply what everyone wants. To be whole and healed.
Kamis, 01 Januari 2015
Gajah yang Menari-nari di Pelupuk Mata
"Semut di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tidak tampak."
Begitu jelas kita melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak dengan kesalahan kita sendiri.
Ada lebih dari satu cara untuk memaknai peribahasa di atas. Namun, melalui berbagai pertimbangan linguistik, dipilih makna tersebut untuk menjadi yang paling hakiki di antara makna yang lain. Setidaknya saya, lebih suka memaknainya dengan cara lain.
Bahwa manusia lebih mampu melihat kebaikan orang lain dibandingkan kebaikan yang ada di dalam dirinya. Bahwa lebih mudah melihat kekurangan diri kita sendiri dibanding melihat kelebihan yang ada. Lebih mudah pula melihat potensi orang lain daripada melihat potensi diri kita sendiri.
Lalu sibuk kesana kemari mencari sesuatu atau seseorang yang bisa melengkapi. Memberi rasa utuh. Mencari sesuatu untuk meyakinkan diri kita bahwa kita bisa. Mencari sebuah arti untuk bisa mencukupkan diri. Tanpa sadar bahwa mencari kelengkapan bukan berarti bahwa kita cacat. Namun lebih kepada memberi makna kepada hidup yang sudah dianugerahi.
Semua hanya butuh lihat ke dalam diri. Percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk mencukupkan. Percaya bahwa hidup sudah sedemikian indah untuk diberi makna. Agar tidak lagi perlu mencari kalimat yang berbunyi :
"You can do it."
"You're good enough for this."
"We're meant to be."
"You complete me."
Bukan, bukan karena kita sudah terlalu sempurna. Namun, seringnya luput dari kita bahwa tugas utama mencari bukanlah sesuatu dari luar untuk mencukupkan kita, tetapi pencarian ke dalam. Tentu saja separuh diri kita berada di luar sana. Menunggu untuk saling menemukan. Namun, temukan dulu dirimu. Baru bisa kau temukan setengah jiwamu.
Of all the things to believe in, why not yourself?
Kamis, 25 Desember 2014
A Random Train Ride
Ceritanya saya lagi dalam perjalanan pulang ke Bekasi pake kereta api. Selama ini saya kalo pulang anteng-anteng aja duduk di kereta dan ga pernah bersosialisasi dengan sesama penumpang lain. Because I find it a bit nosy, nanya-nanya mau kemana, orang mana, pulang atau mau kerja, rumahnya dimana. All that small talk. Takutnya bikin penumpang lain merasa ga nyaman juga ditanya-tanya, as I would do actually. Tapi perjalanan kereta kemarin beda.
Jadi saya lagi jalan di hallway kereta nyari-nyari seat saya. Terus di depan ngelihat satu tas yang gedeeeeee banget dan menutupi setengah dari hallway kereta api. Saya pikir siapa yang punya tas segede itu ya. Aaaand apparently tas itu milik seorang laki-laki yang duduknya di sebelah saya. Bapak tersebut pake baju ABRI full loreng-loreng dan saya agak-agak, well, ngeri. Hahaha. Segan mungkin lebih tepatnya. Jadi saya diposisikan duduk bertiga di kursi untuk 4 orang yang saling berhadapan. Di depan saya duduk bapak-bapak yang tadinya ngantri beli tiket bareng saya. Sebelah saya duduk seorang anggota TNI AD yang baru saja pulang sehabis tugas menjadi pasukan keamanan PBB di Lebanon selatan selama satu tahun. Dan tas yang gede banget itu milik dia.
Dia cerita tentang penugasan dia. Gimana suasana di Lebanon dan kota-kotanya. Dan akhirnya kita cerita bertiga sama bapak-bapak tadi. Interesting. I always like to meet people who’ve seen the world wider than I already did. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke Jogjakarta. Lalu lanjut ke Bali karena markas beliau disana. I honestly don’t understand a thing about military. Jadi saya juga ga bisa nanya-nanya tentang kerjaan dia menjadi pasukan keamanan disana gimana. What rank he is in. What platoon (is it right using this word in this context?) he is in. I don’t know a thing about military custom. Jadi saya ga berani nanya macem-macem hahaha. But it’s nice to meet a person who is not a civilian like we all are.
Singkat cerita, saya sampe dirumah. Thanks to abis jaga kemarinnya dan belum tidur sama sekali, plus rute commuter line yang ngaretnya ampun dan udah 2x ga dapet kereta ke Bekasi karena penuhnya kaya semua penduduk Bekasi ditumpahin di satu kereta, plus jalanan Jakarta dan Bekasi yang macet seharian, dan hujan yang gerimis malu-malu, saya exhausted.
Satu malam di rumah memang worthy ditempuh dengan berbagai macam keadaan yang melelahkan. The feeling of sleeping in my own bed. Showering in my own bathroom. Eating the food that my mom made. Seeing my parents, my brother, and my nephews. Semuanya worth my journey. Dan betapa malasnya ketika keesokan harinya saya harus kembali ke Rangkasbitung (tempat saya internship sekarang). Sumpah males banget. Aseli ga bohong. Anyway sekarang saya sudah kembali di Rangkasbitung.
Saya jadi ingat ibu saya pernah bilang, kalo kita punya orang tua rasanya tenang, di dalam hati masih terasa hangat. That’s exactly how I feel. A feeling of warmth only parents can give. A comfort only family can provide. A warmth, for which I would brave the world, even only for one night.
Kamis, 13 November 2014
A come back
Terakhir ngepost disini sekitar bulan januari 2014 dan sekarang sudah bulan november, walaupun masih dalam tahun yang sama. Sejujurnya saya rinduuu banget menulis. Tapi entah kenapa makin kesini, makin susah memverbalisasikan apa yang terpikir dan terasa. But, i'll try.
Terakhir ngomong disini, saya baru saja selesai koas dan sedang mempersiapkan diri buat the ultimate exam to complete my study to be general practinioner, which i passed alhamdulillah. So now, i'm officially a doctor. General practitioner lebih tepatnya. Sekarang saya sedang menjalani program internship di Banten. Empat bulan di Puskesmas Rangkasbitung - Cisalam, delapan bulan di RSUD Malingping. Dan sekarang baru memasuki minggu ketiga di puskesmas by the way. Kenapa bisa sampe kesini? Ibu saya udah pengen banget saya bertugas di kampung ibu saya, yang mana adalah kota ini. This used to be a sleepy little town, but some things changed, but not that much anyway. Sebenarnya saya awalnya keberatan. Karena rasanya berat meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah saya selama enam tahun terakhir. Tetapi mungkin harus begini. Semuanya harus bergerak. Berpindah. Begitu juga saya. Mungkin ini saatnya.
Saya tidak merasa aneh sih disini. Sejak kecil juga banyak menghabiskan waktu di Rangkasbitung dan Malingping. Ibu saya cinta banget sama kampung halamannya. Selain karena semua sanak saudaranya sebagian besar ada di dua kota (kampung sih sebenernya) ini, dua kota ini tuh kaya punya nilai historis yang mengikat (setidaknya buat ibu saya). Adalah kebanggaan beliau jika salah satu dari anaknya bisa mengabdi disini. Jadilah saya berada disini. Nurut aja kata orangtua.
Beberapa waktu terakhir sebelum meninggalkan Medan, banyak momen-momen haru. Ya bayangin aja enam tahun harus ditebus dengan dua minggu sebelum pepindahan. Awalnya saya gak cerita ke sahabat-sahabat saya kalo saya bakal intern di Banten. Dan begitu dia tahu, kami nangis-nangis sambil pelukan. Aaahh rasanya memang haru sekali. Sampai ketika di bandara mau berangkat ke jakarta aja masih nangis-nangisan. Cengeng, i know. Tapi biarlah. Belum lagi pisahan sama tiga keponakan saya disana, abang dan kakak ipar, sekaligus mbak-mbak yang kerja di rumah. Dan sepanjang perjalanan menuju bandara air mata saya ngalir terus, sampe mata saya panas. Saya nyaksiin momen-momen lahiran dan tumbuh kembang tiga keponakan saya disana dan rasa sayang saya sama mereka, gatau mau dijabarkan dan definisikan seperti apa. Karena sekarang saya ga punya bandingan lain, mungkin rasanya kaya sayang ke anak sendiri. Rasanya ga relaaa gitu ninggalin mereka. Tapi saya tahu kok, saya bisa nengok mereka kapan aja. Dan itu saya tetapkan di hati, bahwa perpisahan ini hanya sementara.
Sekarang menginjak minggu ketiga tugas di Rangkasbitung, rasanya masih baik-baik aja. Hanya sedikit bosan. Dan sering merasa kesepian. Saya ngerti sekarang kenapa rutinitas kerja bisa membosankan. Saya gak rindu-rindu banget sih jalan ke mall atau nongkrong ngopi killing time. Tapi saya rindu punya temen banyak. Biasanya di Medan mau kemana aja kapan aja sama siapa aja gampang. Tinggal bbm atau line, send, lalu ketemuan. Just a button away. Not even a phone call away. Disini rasanya tidak. Sebagian besar waktu sendiri. Ada beberapa teman sesama intern memang, but things are a little bit different and i'm not complaining. I'm coping. Ini proses adaptasi saya tahu. Sekaligus proses pendewasaan, which is a never ending process anyway.
Pasien yang ditemuin di puskesmas macem-macem. Tapi memang variasinya tidak banyak. Tapi siapa yang bilang pasien puskesmas hanya pusing-pusing, keseleo, masuk angin? Tetapi memang jika penyakitnya tidak bisa diterapi di puskesmas harus rujuk ke rumah sakit. Hari pertama masuk puskesmas, semangat. Ah pasti hari ini ga ada kerjanya. Cnua perkenalan briefing ini itu, siang udah pulang. Begitu sampe puskesmas, perkenalan briefing dikit ini itu dan LANGSUNG NGISI BP (balai pengobatan). Lha. Tak kirain masih main-main hari pertama. Ya intinya di puskesmas itu kita belajar bekerja dengan kondisi yang pas-pasan. Sekalian promosi kesehatan ke masyarakat. Karena sejatinya program puskesmas yang utama adalah di bidang prevention yaitu promosi kesehatan.
Kalo melihat ke belakang, banyak hal yang terjadi. Banyak juga hal yang berubah. Dan hal-hal tersebut membuat saya tidak lagi sama. Tidak akan pernah lagi sama. Ada patah hati yang membuat kita semangat mencari. Ada patah hati yang membuat kita jera. Dan saya jera. Ada satu quote dari serial greys anatomy yang saya suka banget. Quote disitu bilang bahwa the future is ever changing. The future is home of our wildest fears and dreams and hopes. And no matter how much we try to figure things out, things will never cease to surprise you.
Satu tahun. Saya akan coba satu tahun. Setelah itu, hidup akan me-reveal semuanya. Kemana saya akan berpijak. Apa yang akan saya temui.
Namun, saya tidak bisa berhenti berharap. Akan hidup. Akan cita-cita yang selalu ada di kepala. Akan cinta.
Terakhir ngomong disini, saya baru saja selesai koas dan sedang mempersiapkan diri buat the ultimate exam to complete my study to be general practinioner, which i passed alhamdulillah. So now, i'm officially a doctor. General practitioner lebih tepatnya. Sekarang saya sedang menjalani program internship di Banten. Empat bulan di Puskesmas Rangkasbitung - Cisalam, delapan bulan di RSUD Malingping. Dan sekarang baru memasuki minggu ketiga di puskesmas by the way. Kenapa bisa sampe kesini? Ibu saya udah pengen banget saya bertugas di kampung ibu saya, yang mana adalah kota ini. This used to be a sleepy little town, but some things changed, but not that much anyway. Sebenarnya saya awalnya keberatan. Karena rasanya berat meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah saya selama enam tahun terakhir. Tetapi mungkin harus begini. Semuanya harus bergerak. Berpindah. Begitu juga saya. Mungkin ini saatnya.
Saya tidak merasa aneh sih disini. Sejak kecil juga banyak menghabiskan waktu di Rangkasbitung dan Malingping. Ibu saya cinta banget sama kampung halamannya. Selain karena semua sanak saudaranya sebagian besar ada di dua kota (kampung sih sebenernya) ini, dua kota ini tuh kaya punya nilai historis yang mengikat (setidaknya buat ibu saya). Adalah kebanggaan beliau jika salah satu dari anaknya bisa mengabdi disini. Jadilah saya berada disini. Nurut aja kata orangtua.
Beberapa waktu terakhir sebelum meninggalkan Medan, banyak momen-momen haru. Ya bayangin aja enam tahun harus ditebus dengan dua minggu sebelum pepindahan. Awalnya saya gak cerita ke sahabat-sahabat saya kalo saya bakal intern di Banten. Dan begitu dia tahu, kami nangis-nangis sambil pelukan. Aaahh rasanya memang haru sekali. Sampai ketika di bandara mau berangkat ke jakarta aja masih nangis-nangisan. Cengeng, i know. Tapi biarlah. Belum lagi pisahan sama tiga keponakan saya disana, abang dan kakak ipar, sekaligus mbak-mbak yang kerja di rumah. Dan sepanjang perjalanan menuju bandara air mata saya ngalir terus, sampe mata saya panas. Saya nyaksiin momen-momen lahiran dan tumbuh kembang tiga keponakan saya disana dan rasa sayang saya sama mereka, gatau mau dijabarkan dan definisikan seperti apa. Karena sekarang saya ga punya bandingan lain, mungkin rasanya kaya sayang ke anak sendiri. Rasanya ga relaaa gitu ninggalin mereka. Tapi saya tahu kok, saya bisa nengok mereka kapan aja. Dan itu saya tetapkan di hati, bahwa perpisahan ini hanya sementara.
Sekarang menginjak minggu ketiga tugas di Rangkasbitung, rasanya masih baik-baik aja. Hanya sedikit bosan. Dan sering merasa kesepian. Saya ngerti sekarang kenapa rutinitas kerja bisa membosankan. Saya gak rindu-rindu banget sih jalan ke mall atau nongkrong ngopi killing time. Tapi saya rindu punya temen banyak. Biasanya di Medan mau kemana aja kapan aja sama siapa aja gampang. Tinggal bbm atau line, send, lalu ketemuan. Just a button away. Not even a phone call away. Disini rasanya tidak. Sebagian besar waktu sendiri. Ada beberapa teman sesama intern memang, but things are a little bit different and i'm not complaining. I'm coping. Ini proses adaptasi saya tahu. Sekaligus proses pendewasaan, which is a never ending process anyway.
Pasien yang ditemuin di puskesmas macem-macem. Tapi memang variasinya tidak banyak. Tapi siapa yang bilang pasien puskesmas hanya pusing-pusing, keseleo, masuk angin? Tetapi memang jika penyakitnya tidak bisa diterapi di puskesmas harus rujuk ke rumah sakit. Hari pertama masuk puskesmas, semangat. Ah pasti hari ini ga ada kerjanya. Cnua perkenalan briefing ini itu, siang udah pulang. Begitu sampe puskesmas, perkenalan briefing dikit ini itu dan LANGSUNG NGISI BP (balai pengobatan). Lha. Tak kirain masih main-main hari pertama. Ya intinya di puskesmas itu kita belajar bekerja dengan kondisi yang pas-pasan. Sekalian promosi kesehatan ke masyarakat. Karena sejatinya program puskesmas yang utama adalah di bidang prevention yaitu promosi kesehatan.
Kalo melihat ke belakang, banyak hal yang terjadi. Banyak juga hal yang berubah. Dan hal-hal tersebut membuat saya tidak lagi sama. Tidak akan pernah lagi sama. Ada patah hati yang membuat kita semangat mencari. Ada patah hati yang membuat kita jera. Dan saya jera. Ada satu quote dari serial greys anatomy yang saya suka banget. Quote disitu bilang bahwa the future is ever changing. The future is home of our wildest fears and dreams and hopes. And no matter how much we try to figure things out, things will never cease to surprise you.
Satu tahun. Saya akan coba satu tahun. Setelah itu, hidup akan me-reveal semuanya. Kemana saya akan berpijak. Apa yang akan saya temui.
Namun, saya tidak bisa berhenti berharap. Akan hidup. Akan cita-cita yang selalu ada di kepala. Akan cinta.
Langganan:
Komentar (Atom)