Ceritanya saya lagi dalam perjalanan pulang ke Bekasi pake kereta api. Selama ini saya kalo pulang anteng-anteng aja duduk di kereta dan ga pernah bersosialisasi dengan sesama penumpang lain. Because I find it a bit nosy, nanya-nanya mau kemana, orang mana, pulang atau mau kerja, rumahnya dimana. All that small talk. Takutnya bikin penumpang lain merasa ga nyaman juga ditanya-tanya, as I would do actually. Tapi perjalanan kereta kemarin beda.
Jadi saya lagi jalan di hallway kereta nyari-nyari seat saya. Terus di depan ngelihat satu tas yang gedeeeeee banget dan menutupi setengah dari hallway kereta api. Saya pikir siapa yang punya tas segede itu ya. Aaaand apparently tas itu milik seorang laki-laki yang duduknya di sebelah saya. Bapak tersebut pake baju ABRI full loreng-loreng dan saya agak-agak, well, ngeri. Hahaha. Segan mungkin lebih tepatnya. Jadi saya diposisikan duduk bertiga di kursi untuk 4 orang yang saling berhadapan. Di depan saya duduk bapak-bapak yang tadinya ngantri beli tiket bareng saya. Sebelah saya duduk seorang anggota TNI AD yang baru saja pulang sehabis tugas menjadi pasukan keamanan PBB di Lebanon selatan selama satu tahun. Dan tas yang gede banget itu milik dia.
Dia cerita tentang penugasan dia. Gimana suasana di Lebanon dan kota-kotanya. Dan akhirnya kita cerita bertiga sama bapak-bapak tadi. Interesting. I always like to meet people who’ve seen the world wider than I already did. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke Jogjakarta. Lalu lanjut ke Bali karena markas beliau disana. I honestly don’t understand a thing about military. Jadi saya juga ga bisa nanya-nanya tentang kerjaan dia menjadi pasukan keamanan disana gimana. What rank he is in. What platoon (is it right using this word in this context?) he is in. I don’t know a thing about military custom. Jadi saya ga berani nanya macem-macem hahaha. But it’s nice to meet a person who is not a civilian like we all are.
Singkat cerita, saya sampe dirumah. Thanks to abis jaga kemarinnya dan belum tidur sama sekali, plus rute commuter line yang ngaretnya ampun dan udah 2x ga dapet kereta ke Bekasi karena penuhnya kaya semua penduduk Bekasi ditumpahin di satu kereta, plus jalanan Jakarta dan Bekasi yang macet seharian, dan hujan yang gerimis malu-malu, saya exhausted.
Satu malam di rumah memang worthy ditempuh dengan berbagai macam keadaan yang melelahkan. The feeling of sleeping in my own bed. Showering in my own bathroom. Eating the food that my mom made. Seeing my parents, my brother, and my nephews. Semuanya worth my journey. Dan betapa malasnya ketika keesokan harinya saya harus kembali ke Rangkasbitung (tempat saya internship sekarang). Sumpah males banget. Aseli ga bohong. Anyway sekarang saya sudah kembali di Rangkasbitung.
Saya jadi ingat ibu saya pernah bilang, kalo kita punya orang tua rasanya tenang, di dalam hati masih terasa hangat. That’s exactly how I feel. A feeling of warmth only parents can give. A comfort only family can provide. A warmth, for which I would brave the world, even only for one night.