Kamis, 25 Desember 2014

A Random Train Ride

Ceritanya saya lagi dalam perjalanan pulang ke Bekasi pake kereta api. Selama ini saya kalo pulang anteng-anteng aja duduk di kereta dan ga pernah bersosialisasi dengan sesama penumpang lain. Because I find it a bit nosy, nanya-nanya mau kemana, orang mana, pulang atau mau kerja, rumahnya dimana. All that small talk. Takutnya bikin penumpang lain merasa ga nyaman juga ditanya-tanya, as I would do actually. Tapi perjalanan kereta kemarin beda.

Jadi saya lagi jalan di hallway kereta nyari-nyari seat saya. Terus di depan ngelihat satu tas yang gedeeeeee banget dan menutupi setengah dari hallway kereta api. Saya pikir siapa yang punya tas segede itu ya. Aaaand apparently tas itu milik seorang laki-laki yang duduknya di sebelah saya. Bapak tersebut pake baju ABRI full loreng-loreng dan saya agak-agak, well, ngeri. Hahaha. Segan mungkin lebih tepatnya. Jadi saya diposisikan duduk bertiga di kursi untuk 4 orang yang saling berhadapan. Di depan saya duduk bapak-bapak yang tadinya ngantri beli tiket bareng saya. Sebelah saya duduk seorang anggota TNI AD yang baru saja pulang sehabis tugas menjadi pasukan keamanan PBB di Lebanon selatan selama satu tahun. Dan tas yang gede banget itu milik dia.

Dia cerita tentang penugasan dia. Gimana suasana di Lebanon dan kota-kotanya. Dan akhirnya kita cerita bertiga sama bapak-bapak tadi. Interesting. I always like to meet people who’ve seen the world wider than I already did. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke Jogjakarta. Lalu lanjut ke Bali karena markas beliau disana. I honestly don’t understand a thing about military. Jadi saya juga ga bisa nanya-nanya tentang kerjaan dia menjadi pasukan keamanan disana gimana. What rank he is in. What platoon (is it right using this word in this context?) he is in. I don’t know a thing about military custom. Jadi saya ga berani nanya macem-macem hahaha. But it’s nice to meet a person who is not a civilian like we all are.

Singkat cerita, saya sampe dirumah. Thanks to abis jaga kemarinnya dan belum tidur sama sekali, plus rute commuter line yang ngaretnya ampun dan udah 2x ga dapet kereta ke Bekasi karena penuhnya kaya semua penduduk Bekasi ditumpahin di satu kereta, plus jalanan Jakarta dan Bekasi yang macet seharian, dan hujan yang gerimis malu-malu, saya exhausted.

Satu malam di rumah memang worthy ditempuh dengan berbagai macam keadaan yang melelahkan. The feeling of sleeping in my own bed. Showering in my own bathroom. Eating the food that my mom made. Seeing my parents, my brother, and my nephews. Semuanya worth my journey. Dan betapa malasnya ketika keesokan harinya saya harus kembali ke Rangkasbitung (tempat saya internship sekarang). Sumpah males banget. Aseli ga bohong. Anyway sekarang saya sudah kembali di Rangkasbitung.

Saya jadi ingat ibu saya pernah bilang, kalo kita punya orang tua rasanya tenang, di dalam hati masih terasa hangat. That’s exactly how I feel. A feeling of warmth only parents can give. A comfort only family can provide. A warmth, for which I would brave the world, even only for one night.

Kamis, 13 November 2014

A come back

Terakhir ngepost disini sekitar bulan januari 2014 dan sekarang sudah bulan november, walaupun masih dalam tahun yang sama. Sejujurnya saya rinduuu banget menulis. Tapi entah kenapa makin kesini, makin susah memverbalisasikan apa yang terpikir dan terasa. But, i'll try.

Terakhir ngomong disini, saya baru saja selesai koas dan sedang mempersiapkan diri buat the ultimate exam to complete my study to be general practinioner, which i passed alhamdulillah. So now, i'm officially a doctor. General practitioner lebih tepatnya. Sekarang saya sedang menjalani program internship di Banten. Empat bulan di Puskesmas Rangkasbitung - Cisalam, delapan bulan di RSUD Malingping. Dan sekarang baru memasuki minggu ketiga di puskesmas by the way. Kenapa bisa sampe kesini? Ibu saya udah pengen banget saya bertugas di kampung ibu saya, yang mana adalah kota ini. This used to be a sleepy little town, but some things changed, but not that much anyway. Sebenarnya saya awalnya keberatan. Karena rasanya berat meninggalkan tempat yang sudah menjadi rumah saya selama enam tahun terakhir. Tetapi mungkin harus begini. Semuanya harus bergerak. Berpindah. Begitu juga saya. Mungkin ini saatnya.

Saya tidak merasa aneh sih disini. Sejak kecil juga banyak menghabiskan waktu di Rangkasbitung dan Malingping. Ibu saya cinta banget sama kampung halamannya. Selain karena semua sanak saudaranya sebagian besar ada di dua kota (kampung sih sebenernya) ini, dua kota ini tuh kaya punya nilai historis yang mengikat (setidaknya buat ibu saya). Adalah kebanggaan beliau jika salah satu dari anaknya bisa mengabdi disini. Jadilah saya berada disini. Nurut aja kata orangtua.

Beberapa waktu terakhir sebelum meninggalkan Medan, banyak momen-momen haru. Ya bayangin aja enam tahun harus ditebus dengan dua minggu sebelum pepindahan. Awalnya saya gak cerita ke sahabat-sahabat saya kalo saya bakal intern di Banten. Dan begitu dia tahu, kami nangis-nangis sambil pelukan. Aaahh rasanya memang haru sekali. Sampai ketika di bandara mau berangkat ke jakarta aja masih nangis-nangisan. Cengeng, i know. Tapi biarlah. Belum lagi pisahan sama tiga keponakan saya disana, abang dan kakak ipar, sekaligus mbak-mbak yang kerja di rumah. Dan sepanjang perjalanan menuju bandara air mata saya ngalir terus, sampe mata saya panas. Saya nyaksiin momen-momen lahiran dan tumbuh kembang tiga keponakan saya disana dan rasa sayang saya sama mereka, gatau mau dijabarkan dan definisikan seperti apa. Karena sekarang saya ga punya bandingan lain, mungkin rasanya kaya sayang ke anak sendiri. Rasanya ga relaaa gitu ninggalin mereka. Tapi saya tahu kok, saya bisa nengok mereka kapan aja. Dan itu saya tetapkan di hati, bahwa perpisahan ini hanya sementara.

Sekarang menginjak minggu ketiga tugas di Rangkasbitung, rasanya masih baik-baik aja. Hanya sedikit bosan. Dan sering merasa kesepian. Saya ngerti sekarang kenapa rutinitas kerja bisa membosankan. Saya gak rindu-rindu banget sih jalan ke mall atau nongkrong ngopi killing time. Tapi saya rindu punya temen banyak. Biasanya di Medan mau kemana aja kapan aja sama siapa aja gampang. Tinggal bbm atau line, send, lalu ketemuan. Just a button away. Not even a phone call away. Disini rasanya tidak. Sebagian besar waktu sendiri. Ada beberapa teman sesama intern memang, but things are a little bit different and i'm not complaining. I'm coping. Ini proses adaptasi saya tahu. Sekaligus proses pendewasaan, which is a never ending process anyway.

Pasien yang ditemuin di puskesmas macem-macem. Tapi memang variasinya tidak banyak. Tapi siapa yang bilang pasien puskesmas hanya pusing-pusing, keseleo, masuk angin? Tetapi memang jika penyakitnya tidak bisa diterapi di puskesmas harus rujuk ke rumah sakit. Hari pertama masuk puskesmas, semangat. Ah pasti hari ini ga ada kerjanya. Cnua perkenalan briefing ini itu, siang udah pulang. Begitu sampe puskesmas, perkenalan briefing dikit ini itu dan LANGSUNG NGISI BP (balai pengobatan). Lha. Tak kirain masih main-main hari pertama. Ya intinya di puskesmas itu kita belajar bekerja dengan kondisi yang pas-pasan. Sekalian promosi kesehatan ke masyarakat. Karena sejatinya program puskesmas yang utama adalah di bidang prevention yaitu promosi kesehatan.

Kalo melihat ke belakang, banyak hal yang terjadi. Banyak juga hal yang berubah. Dan hal-hal tersebut membuat saya tidak lagi sama. Tidak akan pernah lagi sama. Ada patah hati yang membuat kita semangat mencari. Ada patah hati yang membuat kita jera. Dan saya jera. Ada satu quote dari serial greys anatomy yang saya suka banget. Quote disitu bilang bahwa the future is ever changing. The future is home of our wildest fears and dreams and hopes. And no matter how much we try to figure things out, things will never cease to surprise you.

Satu tahun. Saya akan coba satu tahun. Setelah itu, hidup akan me-reveal semuanya. Kemana saya akan berpijak. Apa yang akan saya temui.

Namun, saya tidak bisa berhenti berharap. Akan hidup. Akan cita-cita yang selalu ada di kepala. Akan cinta.


Rabu, 22 Januari 2014

Disconnected


Beberapa waktu lalu, I suffered from a severe disconnection. Jadi beberapa minggu terakhir sebagai koas di bagian Forensik, karena banyak juga aktivitas yang gak membutuhkan energi, saya jadi semacam merasa occupied by a total waste of melancholy.

Saya juga ga tau kenapa persisnya. All I did was sitting there just by myself. I can’t help it. I’ve never felt so alone. Seolah-olah seluruh dunia bergerak dalam kecepatan yang konstan sementara saya hanya berdiam diri. Tak ikut bergerak. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya menyaksikan moment passing by.

Saya memang sedang diposisikan di tengah-tengah lingkaran yang saya kurang mengerti. Bukan salah siapa-siapa. Mungkin salah saya yang tidak selalu bisa melihat the bright side of everything. Mungkin salah satu sebabnya adalah cinta yang tak berbalas. Sungguh, perasaan ini mengambil timing yang benar-benar salah untuk muncul ke permukaan.

I tried to communicate it with the person I know. But somehow, I cannot find my way to communicate the sadness, the loneliness, the disconnection, and all of that unnecessary feelings. Jadi saya pikir, if anyone couldn’t even understand my situation, why bother sharing it? Ternyata keputusan tersebut salah. That only brings me to the deeper side of blue. Ternyata saya malah semakin sedih dan semakin merasa sendiri.

It’s like I’m screaming for help, but no one seems to hear a thing. Saya rindu teman-teman yang selalu ada. Sesungguhnya saya lelah dengan semua melankoli ini. But I can’t help it. That’s just me, along with my bitterness and my twisted mind.

Namun, entah bagaimana, I managed to get through it. Bukan berarti semua perasaan itu hilang entah kemana. Tapi lebih seperti, if someone just twisted an ankle and learn to dance with the limp. Seperti itulah juga saya. Just try living as best as I can with a broken smile. 

Maju terus, Sejawatku!


Profesi kami sebagai Dokter sedang menjadi sorotan. Belum lama ini, ada satu tim dokter di Manado yang beranggotakan 3 orang terjerat kasus hukum atas tindakan medis yang dilakukannya. Hal ini menyulut tindakan dan aksi-aksi solidaritas Dokter se-Tanah Air untuk angkat bicara. Saya tidak ingin berbicara banyak tentang hal ini. Hal ini sudah sering dibahas di banyak media.

Hal ini lalu memicu tanya. Mengapa kami mau jadi Dokter? Apakah kami masih ingin menjadi Dokter? Apa yang menyebabkan profesi kami perlahan diturunkan kemuliaannya?

Menurut saya sebagian besar motivasi seseorang untuk menjadi Dokter, disamping tuntutan keluarga, adalah harapan. Harapan untuk hidup yang lebih baik. Harapan untuk lebih mulia dalam hidup. Bahwa suatu saat di masa depan, kami bisa mempersembahkan sebuah kebanggaan kepada orang tua dan keluarga tercinta. Betul, menjadi Dokter bukan melulu tentang uang. Bahkan saat ini sepertinya uang bukan lagi bisa dibanggakan dengan menjadi Dokter. Namun, untuk orang seperti kami yang tidak pernah membayangkan profesi lain selain Dokter, ini adalah satu-satunya hal yang kami mengerti.

Medicine is only for those who cannot imagine doing anything else.

Harapan tersebut yang menghangatkan hati kami di tengah maraknya isu ketidakpahaman akan profesi Dokter. Untuk sebagian dari kami, harapan-harapan tersebut yang membuat kami terus maju ditengah ombang-ambing ketidakpastian profesi kami.

Jangan renggut harapan itu dari kami. Jangan binasakan harapan itu di hadapan kami maupun di belakang kami. Jika kepastian tidak bisa kami miliki, harapan itulah satu-satunya yang kami punya.

Maju terus sejawatku. Maju terus Dokter Indonesia.