Beberapa waktu lalu, I suffered from a severe disconnection.
Jadi beberapa minggu terakhir sebagai koas di bagian Forensik, karena banyak
juga aktivitas yang gak membutuhkan energi, saya jadi semacam merasa occupied
by a total waste of melancholy.
Saya juga ga tau kenapa persisnya. All I did was sitting
there just by myself. I can’t help it. I’ve never felt so alone. Seolah-olah
seluruh dunia bergerak dalam kecepatan yang konstan sementara saya hanya
berdiam diri. Tak ikut bergerak. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya
menyaksikan moment passing by.
Saya memang sedang diposisikan di tengah-tengah lingkaran
yang saya kurang mengerti. Bukan salah siapa-siapa. Mungkin salah saya yang
tidak selalu bisa melihat the bright side of everything. Mungkin salah satu
sebabnya adalah cinta yang tak berbalas. Sungguh, perasaan ini mengambil timing
yang benar-benar salah untuk muncul ke permukaan.
I tried to communicate it with the person I know. But
somehow, I cannot find my way to communicate the sadness, the loneliness, the
disconnection, and all of that unnecessary feelings. Jadi saya pikir, if anyone
couldn’t even understand my situation, why bother sharing it? Ternyata
keputusan tersebut salah. That only brings me to the deeper side of blue.
Ternyata saya malah semakin sedih dan semakin merasa sendiri.
It’s like I’m screaming for help, but no one seems to hear a
thing. Saya rindu teman-teman yang selalu ada. Sesungguhnya saya lelah dengan
semua melankoli ini. But I can’t help it. That’s just me, along with my bitterness
and my twisted mind.
Namun, entah bagaimana, I managed to get through it. Bukan
berarti semua perasaan itu hilang entah kemana. Tapi lebih seperti, if someone
just twisted an ankle and learn to dance with the limp. Seperti itulah juga
saya. Just try living as best as I can with a broken smile.