Rabu, 22 Januari 2014

Disconnected


Beberapa waktu lalu, I suffered from a severe disconnection. Jadi beberapa minggu terakhir sebagai koas di bagian Forensik, karena banyak juga aktivitas yang gak membutuhkan energi, saya jadi semacam merasa occupied by a total waste of melancholy.

Saya juga ga tau kenapa persisnya. All I did was sitting there just by myself. I can’t help it. I’ve never felt so alone. Seolah-olah seluruh dunia bergerak dalam kecepatan yang konstan sementara saya hanya berdiam diri. Tak ikut bergerak. Sehingga yang bisa saya lakukan hanya menyaksikan moment passing by.

Saya memang sedang diposisikan di tengah-tengah lingkaran yang saya kurang mengerti. Bukan salah siapa-siapa. Mungkin salah saya yang tidak selalu bisa melihat the bright side of everything. Mungkin salah satu sebabnya adalah cinta yang tak berbalas. Sungguh, perasaan ini mengambil timing yang benar-benar salah untuk muncul ke permukaan.

I tried to communicate it with the person I know. But somehow, I cannot find my way to communicate the sadness, the loneliness, the disconnection, and all of that unnecessary feelings. Jadi saya pikir, if anyone couldn’t even understand my situation, why bother sharing it? Ternyata keputusan tersebut salah. That only brings me to the deeper side of blue. Ternyata saya malah semakin sedih dan semakin merasa sendiri.

It’s like I’m screaming for help, but no one seems to hear a thing. Saya rindu teman-teman yang selalu ada. Sesungguhnya saya lelah dengan semua melankoli ini. But I can’t help it. That’s just me, along with my bitterness and my twisted mind.

Namun, entah bagaimana, I managed to get through it. Bukan berarti semua perasaan itu hilang entah kemana. Tapi lebih seperti, if someone just twisted an ankle and learn to dance with the limp. Seperti itulah juga saya. Just try living as best as I can with a broken smile. 

Maju terus, Sejawatku!


Profesi kami sebagai Dokter sedang menjadi sorotan. Belum lama ini, ada satu tim dokter di Manado yang beranggotakan 3 orang terjerat kasus hukum atas tindakan medis yang dilakukannya. Hal ini menyulut tindakan dan aksi-aksi solidaritas Dokter se-Tanah Air untuk angkat bicara. Saya tidak ingin berbicara banyak tentang hal ini. Hal ini sudah sering dibahas di banyak media.

Hal ini lalu memicu tanya. Mengapa kami mau jadi Dokter? Apakah kami masih ingin menjadi Dokter? Apa yang menyebabkan profesi kami perlahan diturunkan kemuliaannya?

Menurut saya sebagian besar motivasi seseorang untuk menjadi Dokter, disamping tuntutan keluarga, adalah harapan. Harapan untuk hidup yang lebih baik. Harapan untuk lebih mulia dalam hidup. Bahwa suatu saat di masa depan, kami bisa mempersembahkan sebuah kebanggaan kepada orang tua dan keluarga tercinta. Betul, menjadi Dokter bukan melulu tentang uang. Bahkan saat ini sepertinya uang bukan lagi bisa dibanggakan dengan menjadi Dokter. Namun, untuk orang seperti kami yang tidak pernah membayangkan profesi lain selain Dokter, ini adalah satu-satunya hal yang kami mengerti.

Medicine is only for those who cannot imagine doing anything else.

Harapan tersebut yang menghangatkan hati kami di tengah maraknya isu ketidakpahaman akan profesi Dokter. Untuk sebagian dari kami, harapan-harapan tersebut yang membuat kami terus maju ditengah ombang-ambing ketidakpastian profesi kami.

Jangan renggut harapan itu dari kami. Jangan binasakan harapan itu di hadapan kami maupun di belakang kami. Jika kepastian tidak bisa kami miliki, harapan itulah satu-satunya yang kami punya.

Maju terus sejawatku. Maju terus Dokter Indonesia.