Suatu ketika saya berjanji pada seorang
teman bahwa saya akan menuliskan sesuatu untuk dia. Jadi, keburu janjinya ngga
basi, dan ngga kelupaan, I’d better start. So here I am. Starting.
Tragedy happens. Whether we want it or
not. Whether we are prepared or not. Seolah seperti percakapan monolog yang
menolak kita untuk berkata tidak pada tragedi. Tragedi banyak bentuknya.
Kehilangan, perpisahan, kekecewaan, segala sesuatu yang membawa kita pada titik
nol. Titik awal.
Plato pernah mengatakan bahwa sejatinya
pada zaman dahulu, manusia merupakan gabungan dari dua manusia. Berkepala dua,
bertangan empat, dan berkaki empat. Dan manusia seperti ini merasa hebat dan
“lengkap”. Manusia seperti ini merasa tidak ada lagi yang kurang dalam hidup
mereka. Suatu ketika Zeus takut akan potensi manusia seperti ini, sehingga
membelah manusia menjadi dua. Lalu manusia yang sudah terbelah ini dikutuk
untuk mencari separuh dirinya yang lain seumur hidup.
Teman saya pernah berada pada fase
manusia seperti itu. Manusia yang sudah menemukan separuh dirinya yang lain. Seperti
halnya manusia yang sudah menemukan keutuhan, semuanya tampak berjalan lancar
dan mudah. Apa lagi yang kurang dalam hidupmu jika berbagai macam cinta sudah
kau temukan? Cinta dari orang tua dan keluargamu, cinta dari teman-teman, cinta
dari Tuhan, dan cinta dari separuh diri kita yang lain. Semua harusnya lebih
dari cukup. Dan semua itu menyatu dalam wadah energi dan menjadikan hidup
menjadi lebih mudah untuk dijalani.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Bahwa
sepandai apapun mulut ini berbicara, dan sepandai apapun kaki ini melangkah,
suatu saat akan ada kerikil atau bahkan batu besar yang akan menjegal kaki
kita. Tiba-tiba teman saya harus berpisah dengan separuh dirinya yang lain
karena suatu tragedi. Tragedi yang bahkan, sepandai apapun manusia memprediksi datangnya komet Haley tujuh puluh enam tahun sekali, tak mampu memprediksi datangnya perpisahan.
Perpisahan itu datang seperti gunung es
yang datang entah dari mana di tengah lautan, lalu menghancurkan apapun yang
menabraknya. Seperti badai yang entah datang dari mana, lalu menarik dan
menggulung apapun yang dilewatinya. Aku tak suka badai. Badai selalu
menghancurkan. Tentu saja, siapa yang suka?
Perpisahan tersebut datang dan membawa
teman saya ke titik nol. Titik awal. Seperti layaknya titik awal, kita tidak
memiliki apa-apa. Bahkan beberapa hal terasa surreal. Terasa tidak nyata.
Perbatasan antara alam mimpi dan realita. Sudah tak terhitung air mata yang
jatuh karena perpisahan tersebut. Sudah tak terhitung doa yang dipanjatkan
semata-mata hanya untuk menguatkan diri. Bahkan untuk berdiri saja sampai
linglung karena air mata sudah berhasil menggelapkan dunia.
Namun, seperti sudah kodratnya, waktu
menyembuhkan semua luka. Tuhan menjawab segala doa. Langit kembali biru, dan
air mata yang sempat membutakan, malah membuat mata melihat lebih jelas.
Seperti halnya pelangi terlukis setelah hujan badai datang. Seperti pagi datang
menjelang dan mengakhiri gulita.
Jangan bersedih lagi kawan. Ketahuilah,
bahwa sebelum usai tangismu, Tuhan sudah menghitung air matamu. Bahwa sebelum
kau tutup doamu, Tuhan sudah mengamini dan mengirimkan bantuannya melalui
tangan-tangan yang tak terlihat olehmu. Tuhan mengerti luka hatimu bahkan lebih
dari yang kau kira. Tuhan menyentuh hatimu saat kau ucapkan doa yang diiringi
isak air matamu.
Pada satu saat bahagia nanti, Tuhan akan
membalas semuanya dengan hal yang jauh lebih baik daripada yang kau rencanakan.
Seperti kata Andrea Hirata pada novelnya, Tuhan tau tapi menunggu. Ketika waktu
yang tepat tersebut datang, Tuhan akan menghujanimu dengan berkah dan
kebahagiaan yang tak terkira.