Jumat, 12 April 2013

Purpose


Today I saw a woman’s beating heart inside its rib cage. That’s something to be grateful for. Not everyone gets to see a human’s beating heart every other day in his or her lives.

Seorang wanita 50 tahun dengan kelainan katup jantung yang multipel dan harus dilakukan Mitral Valve Replacement. Dengan CTR yang hampir 70% (saya sendiri juga ngga ngukur CTR-nya precisely, hanya lihat dari foto toraks). Sebenarnya pasien ini bukan pasien saya. Bukan saya juga yang melakukan pemeriksaan dan planning pra-operasi terhadap pasien ini. Pasien saya sebenarnya adalah seorang laki-laki 47 tahun dengan Ca Laring, tetapi operasinya batal dilakukan. Sehingga saya bisa ikutan operasi dengan teman saya yang mana pasien jantung tersebut adalah pasien dari teman saya.

When I saw that living and beating heart inside its rib cage, I felt so overwhelmed I almost shed a tear. I was in awe. Saat pertama kali melihat jantung tersebut, kata pertama yang terucap di hati adalah “subhannallah..”. I am not the most religious person in the whole world. But when you get to see something so beautiful like a beating heart, it’s hard not to be touched. There is nothing more alive in this world than a human’s beating heart.

Keadaan jantung pasien tersebut sudah sedemikian parah. Sudah terjadi atrial fibrilasi, dan sudah membesar. Namun, masih tetap berdenyut. Seperti tidak mau menyerah. Seperti tidak mau berhenti. Tidak bisa berhenti lebih tepatnya. Karena selemah apapun denyutnya masih bermakna. That is called life. That is called a purpose. Why can’t we be like that? Why can’t we be like that living and beating heart? Bahwa dalam keadaan separah apapun masih saja berdenyut sampai Tuhan yang menyuruhnya berhenti.

Tanpa kita sadari ternyata kita punya tujuan di dalam diri kita. Tujuan tersebut hidup, berdenyut, dan merasuk pada setiap detiknya. Jangan pernah berhenti. Letakkan tanganmu di dada kirimu. Rasakan. Rasakan denyutnya yang tidak pernah berhenti. That is called a purpose.

Medan, 9 April 2013

Selasa, 02 April 2013

Hobi


Saya sudah masuk stase baru sekarang. Anestesi dan Terapi Intensif. Tempo hari saat berkenalan dengan Abang-abang PPDS Anestesi, masing-masing dari kami koas ditanya nama, stambuk (angkatan), alamat rumah, pekerjaan orang tua, status, dan hobi.

Entah karena keterbatasan waktu atau karena saya enggan terbuka, spontan saya bilang hobi saya nonton film. It’s not that watching movies is not my hobby. It’s just that I have more hobbies than just watching movies. I want to be able to say that my hobbies are reading a really good book, writing what I have in mind, watching movies, and listening to good music.

Ya kesannya sih gampang kalo bilang hobi saya nonton film. Karena pertanyaannya akan berhenti sampai disitu. Saya ga bakal diintrogasi lagi nonton film apa dimana sama siapa. Padahal dalam hati ingin sekali berkata saya suka baca buku yang bener-bener bagus, dan saya suka menulis. Tapi, nanti kalo ditanya suka nulis apa, saya harus jawab apa? Nulis galau? Curhat? Blogging? Aduh keren amat sih kedengerannya. Padahal, all I ever do is writing whatever resides in my mind. Ya termasuk juga sih nulis galau. Tapi, kebanyakan adalah apa yang sedang berkecamuk di pikiran kok, apapun itu.

Ingin sekali saya bilang bahwa saya suka baca buku. Contohnya buku karya Dewi Lestari, Andrea Hirata, A. Fuadi, Trinity, J. K. Rowling, Haruki Murakami, Candace Bushnell, John Grisham, dan banyak karya author lainnya yang masih ngatri di rak buku saya menunggu untuk dibaca. Tapi, lalu saya takut dianggap anomali. Entah kenapa. Mungkin karena saya belum bertemu banyak orang dengan hobi seperti saya ini. Kalopun ketemu, tidak setiap saat saya bisa berbagi cerita.

Ingin sekali saya bilang saya suka dengar musik. Musik dengan genre apa aja. Pop, rock, Britpop, punk, emo, jazz, easy listening, sampai dangdut. Well, kecuali reggae dan metal. Aduh ampun, I simply can’t stand those harmony. Kebanyakan adalah musik dengan lirik yang bagus. Lyrics that I can relate to. Engga semua lagu cinta kok. Banyak juga yang lainnya. Hanya saja, sesuuatu hal tentang cinta akan lebih mudah tersampaikan maknanya. Karena cinta adalah bahasa universal kalo kata Glenn Fredly.

Tentang menonton film, don’t get me wrong. I like watching movie very much. Menurut saya menonton film adalah cara belajar yang termudah. Belajar tentang apa aja, tentang nilai moral, tentang inspirasi, tentang pengalaman orang lain, tentang (lagi-lagi) cinta, sampai belajar bahasa inggris lewat subtitle English di DVD.  

Saya pernah baca kutipan dari seseorang yang saya tidak ingat siapa, tetapi beliau berkata bahwa kita akan lebih mudah mencari teman jika kita berusaha memahami interest mereka, rather than membuat mereka memahami interest kita. But, I mean, it would be nice if someone tries to take our interest, some other time :)