Sebenarnya ide cerita ini sudah dari hampir 1 minggu lalu. Tapi karena saya procrastinate, trus jadi terlupa. Sekarang baru inget lagi dan akan saya coba ceritain.
Jadi saya sedang dalam perjalanan pulang dari Malingping ke Bekasi. Rute perjalanan pulang saya adalah Malingping-Rangkasbitung by bus, Rangkasbitung-Jakarta by train. Bis yang saya tumpangi dari Malingping ke Rangkasbitung tuh bis RUDI, no ac, Alhamdulillah saya masih dapat kursi. Dan sepanjang perjalanan bis saya beberapa kali berhenti karena buka-tutup jalan, karena lagi dicor. Jadi setiap berhenti beberapa penjaja makanan kecil dan minuman naik ke dalam bis untuk menjajakan dagangannya. Saya pernah dibilangin sama om, kalo lagi dalam perjalanan gitu usahakan beli lah salah satu dagangan mereka. Entah minuman, tissue, atau apapun. Kata om saya, mereka juga akan bantu mendoakan keselamatan kita dalam perjalanan. So I did.
Anyway, salah satu penjaja makanan tersebut adalah seorang ibu muda. Saya beli tissue dari ibu tersebut. Terus salah satu penumpang yang duduk di depan saya nanya ke ibu muda tersebut. Percakapan ini dalam bahasa sunda by the way, tapi saya simplify aja pake bahasa indo. Intinya penumpang depan saya nanya ibu ini gimana baliknya lagi ke kota. Karena ga mungkin terus-terusan nunggu bis di tengah rute untuk jualan. Ibu muda itu jawab, dengan gayanya yang sedikit jenaka, bahwa dia numpang mobil apa aja yang mau ditumpangi untuk balik lagi ke kota. Mau mobil pickup, mobil losbak, apa aja. Ga sedikitpun mengeluh bahwa disitu panas terik dan berdebu karena ditengah-tengah construction work jalan.
Lucu ya hidup ini. Mungkin ibu itu ga mikirin tentang hal-hal besar di dunia ini. Ibu itu ga mikirin bahwa dollar terus naik. Ibu itu juga ga mikirin pasien post op saya tadi recovery nya bagus ga, jaitannya nyambung ga. Ibu itu mungkin ngga mikirin apa yang saya dan kamu pikirkan. Setiap hari yang di benak dia hanya numpang mobil, ke tengah rute jalan untuk jualan, sorenya balik lagi, numpang mobil ke kota (yang belum jelas mobil apa, belum jelas juga bakal ada atau tidak mobil tumpangannya). Gitu aja setiap harinya. Tapi dia pasti mikirin, besok makan apa? Besok masih bisa makan ga? People’s lives are somehow so simple, yet so complicated. Mungkin ibu itu ga mikirin hal-hal ribet yang kita pikirin setiap harinya. Tapi ibu itu memikirkan satu hal paling pelik setiap harinya. Bagaimana cara dia menyambung hidupnya dan keluarga, hari demi hari. Day in, day out. Night in, night out. Dan kita, percaya bahwa setiap harinya kita menghadapi masalah demi masalah krusial yang meyangkut hidup kita. Tanpa tahu dan sadar bahwa radius beberapa kilometer saja, orang berjuang setiap harinya menghidupi hidup.