Rabu, 27 Februari 2013

Goodbyes

(Apparently, ternyata saya menulis sesuatu di laptop pada tanggal 4 Februari 2013 yang sebenarnya saya juga ngga inget pernah nulis ini. But I post it anyway.)


It’s been quite a long time since the last time I did some writing. Dalam hati mulai bertanya-tanya juga, is it because of my inconsistency? I mean, even a real writer has his/her ups and downs right? Ah sudahlah.

Sebentar lagi saya bakalan masuk tahun kedua koas. Ngga terasa hampir setahun lalu saya daftar koas di Gedung Abdul Hakim kampus FK USU bersama 4 individu luar biasa untuk bisa membentuk satu kelompok.

Namun, karena satu dan lain hal, ternyata manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah yang menentukan akhir atau awal dari suatu perjalanan lainnya. Saya banyak kehilangan. Namun, saya banyak juga belajar. Ternyata terkadang kita harus melalui fase yang sebegitu ekstrim untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya. Ternyata terkadang kita harus merasakan jatuh lalu tertimpa tangga untuk bisa merasakan pucuk dicinta dan ulam pun tiba. Harus rela berletih-letih berakit ke hulu untuk bisa santai berenang ke tepian. Sometimes we have to learn the hard way to be better.

Tuhan memang Maha Adil dan Maha Penyayang. Bahkan di tengah-tengah kalang kabutnya masalah di koas dan di tengah kalutnya hati karena kehilangan, Tuhan masih mengirim tangan-tangan ajaib untuk menolong, serta teman sejati yang tidak pernah pergi.

Some goodbyes are inevitable no matter how hard we try. Maybe that’s the only way we can learn. Learn to see things beyond what they appear to be. Learn to be more independent. Learn to set our existence to be more than just participating.


Rabu, 20 Februari 2013

Norma-Norma Ngga Jelas


Saya sudah selesai koas di tahun pertama dan sekarang memasuki tahun kedua. This is a big transition. Pasalnya, saya harus berganti kelompok dari kelompok saya yang pertama. But, more of that later. Kapan-kapan saya ceritakan kalau sedang mood.

Beberapa hari lalu saya cerita ke seorang sahabat. Bahwa saya merindukan berbicara dengan satu oknum. Hanya berbicara. Sejauh yang saya ingat, we used to talk about everything, but not anymore. Sahabat saya berkata, as I quote, “gue mengerti sih perasaan lo tentang ingin mengobrol dengan seseorang tersebut. Sesimpel dan senyaman bilang ‘eh apa kabar lo? Kangen deh gue pengen ngobrol sama lo!’ tanpa harus dikira genit atau malah mau ngerebut pacar orang”.

Menurut sahabat saya, kadang orang semakin tua akan semakin lupa sama hal-hal penting semacam ‘berteman’. Seringan kita mikirin gengsi, atau terikat sama norma-norma yang sebenarnya ga jelas asalnya dari mana. Nah, saya setuju banget dengan ini. Dari mana sih asalnya norma-norma ga jelas tersebut? Apa sementang keadaan sudah berubah, jarak menjadi semakin jauh, ikatan hati atau pertemanan sudah tidak seperti dulu, lantas komunikasi harus berubah? Lantas jika mencoba agar bisa berkomunikasi seperti dulu dianggap anomali?

Sedikit melenceng dari topik, hari ini saya mendapat kuliah dari pembicara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bagian Pengendalian Penyakit. Pembicara ini sangat talkative dan menarik perhatian sekali dengan konten pembicaraannya. Beliau menyatakan bahwa di pelosok desa di Sumatera Utara, banyak sekali yang belum punya jamban. Bukan tentang penduduknya tidak punya uang, justru mereka punya harta yang cukup banyak. Namun, karena adat istiadat yang secara tidak langsung menetapkan bahwa jamban itu tidak perlu, lantas mereka tidak mau membangun jamban dan berkata ‘kalo mau buang hajat ya gampang! Bisa dilakukan di bawah pohon, atau di sungai.’ Tanpa mempertimbangkan sedikit pun tentang penyakit dan hal-hal merugikan lainnya akibat BAB di sembarang tempat yang bahkan tidak usah saya sebutkan.

Satu lagi contoh dari aturan di masyarakat, norma atau adat istiadat, yang tidak jelas asalnya dari mana tapi tetap saja diikuti. Apakah menjadi terlalu tabu jika kita menciptakan aturan-aturan sendiri? Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan orang lain. Murni karena keinginan saya dan bukan karena ada hidden agenda dibaliknya. Apakah tabu jika saya berkata ‘eh apa kabar? Gue kangen deh ngobrol sama lo’?