(Apparently, ternyata saya menulis sesuatu di laptop pada tanggal 4 Februari 2013 yang sebenarnya saya juga ngga inget pernah nulis ini. But I post it anyway.)
It’s
been quite a long time since the last time I did some writing. Dalam hati mulai
bertanya-tanya juga, is it because of my inconsistency? I mean, even a real
writer has his/her ups and downs right? Ah sudahlah.
Sebentar
lagi saya bakalan masuk tahun kedua koas. Ngga terasa hampir setahun lalu saya
daftar koas di Gedung Abdul Hakim kampus FK USU bersama 4 individu luar biasa untuk bisa membentuk satu kelompok.
Namun,
karena satu dan lain hal, ternyata manusia hanya bisa berencana dan Tuhan lah
yang menentukan akhir atau awal dari suatu perjalanan lainnya. Saya banyak
kehilangan. Namun, saya banyak juga belajar. Ternyata terkadang kita harus
melalui fase yang sebegitu ekstrim untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Ternyata terkadang kita harus merasakan jatuh lalu tertimpa tangga untuk bisa
merasakan pucuk dicinta dan ulam pun tiba. Harus rela berletih-letih berakit ke
hulu untuk bisa santai berenang ke tepian. Sometimes we have to learn the hard
way to be better.
Tuhan
memang Maha Adil dan Maha Penyayang. Bahkan di tengah-tengah kalang kabutnya
masalah di koas dan di tengah kalutnya hati karena kehilangan, Tuhan masih
mengirim tangan-tangan ajaib untuk menolong, serta teman sejati yang tidak
pernah pergi.
Some
goodbyes are inevitable no matter how hard we try. Maybe that’s the only way we
can learn. Learn to see things beyond what they appear to be. Learn to be more
independent. Learn to set our existence to be more than just participating.