Jumat, 26 Oktober 2012

Tears Heal

"Nangis, Nak, nangis. Nangis itu obat buat kita", ujar seorang nenek kepada cucunya yang baru lahir di ruang operasi.

Hari ini saya baru ikut prosedur seksio caesaria lagi. Operasi caesar kalo bahasa umumnya. Saat bayi itu lahir ke dunia, dia tidak langsung menangis. Lalu terjadilah sedikit kehebohan dari para tim dokter untuk 'memancing' bayi itu menangis. Kebetulan, saat itu nenek dari bayi tersebut mendampingi. Lalu beliau berkata seperti itu. Kalimat itu langsung tersimpan di kepala dan memberi saya ide untuk menulis.

Is it true?  Do tears really heal? Kadang kita berada pada satu situasi dimana menangis hanya menjadi jalan keluar satu-satunya. Setidaknya walaupun tidak menjadi jalan keluar, dapat menjadi persinggahan hati yang sedang kelelahan. Tentu saja menangis pada bayi yang baru lahir berbeda maknanya dengan menangis pada orang dewasa. Pada bayi yang baru lahir menangis menjadi tanda kehidupan yang krusial. Menandakan terjadinya insan yang sedang berpindah alam, dari alam rahim menuju alam dunia. Menandakan siapnya bayi tersebut menjalani hidup di alam yang berbeda dari sebelumnya.

Tears heal, sometimes. In times when no one else is around. In times when we don't know how to react. In times when there seems like no way out. In times when things are just too unbearable. In times when things are so overwhelming that our body cannot contain all the emotions.

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kalaupun tidak menyembuhkan, paling tidak menjadi tempat persinggahan sementara untuk hati yang kelelahan. Seperti menemukan tempat bersandar setelah sekian lama punggung ini berdiri tegak. Seperti duduk sejenak setelah sekian lama berlari dan tersesat.

Sejak kita lahir ke dunia, menangis sudah menjadi tanda kehidupan. Maka itu, air mata bukan pertanda lemah. Tapi pertanda bahwa kita hidup. Seutuhnya, sebagai seorang manusia. Jika pada bayi yang baru lahir menangis menjadi tanda bayi yang sedang mengalami perpindahan, maka menangis bagi kita juga bisa menjadi tanda kita sedang berpindah, dari situasi yang kelam, menuju terang-benderang. Percayalah bahwa mata yang tercuci, dapat melihat lebih baik.

Kamis, 25 Oktober 2012

Mask

Everyone wears a mask. To cover the pain, shame, fear, doubt, insecurities, sadness, and all kinds of negativity. What are we so afraid of that we have to wear a mask all the time? Pernah satu kali waktu, saya membaca satu puisi karangan Shel Silverstein yang berjudul Masks. Begini bunyinya,

She had blue skin,
and so did he.
He kept it hid,
and so did she.
They searched for blue
their whole life through,
Then passed right by-
and never knew.

Kira-kira artinya secara konotasi, ada dua orang yang mempunyai kulit biru tapi ditutupi dengan topeng sepanjang hidup. Dua orang tersebut saling mencari kulit biru yang lain. Namun, tidak pernah bertemu walau sudah berpapasan, karena selalu tertutupi topeng.

Topeng yang paling mudah dan simpel adalah senyuman. Senyum adalah hal yang paling mudah menutupi apa pun. Menutupi ketakutan, kesedihan, masalah, dan hal-hal lain yang bahkan tidak bisa dijangkau orang lain. Namun, lihatlah matanya, apakah terpancar kebahagiaan?

Saat kita melukis wajah kita dengan riasan, itu juga salah satu bentuk topeng yang biasa kita pakai. Bukan, bukan karena akumulasi bedak yang dipakai sampai menjadi seperti topeng. Tapi pesan yang ingin disampaikan di balik itu. Pesan bahwa seseorang tersebut merasa insecure, lalu membubuhi bedak di wajahnya. Pesan bahwa mata ini indah dengan riasan, walau tak pernah ada orang yang menyaksikan mata tersebut menangis. Pesan bahwa bibir ini sering berbohong dan berkata semua baik-baik saja, demi menutupi hati yang menjerit kecewa. Pesan bahwa senyum ini ada, tapi tak sempurna.

It's hard to find people that we can be ourselves around them easily. Or else, be weird together. Semua orang punya topeng, dan memakainya setiap hari. Pertanyaannya, sampai sejauh mana kita terus memakai topeng?