"Semut di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tidak tampak."
Begitu jelas kita melihat kesalahan orang lain, tetapi tidak dengan kesalahan kita sendiri.
Ada lebih dari satu cara untuk memaknai peribahasa di atas. Namun, melalui berbagai pertimbangan linguistik, dipilih makna tersebut untuk menjadi yang paling hakiki di antara makna yang lain. Setidaknya saya, lebih suka memaknainya dengan cara lain.
Bahwa manusia lebih mampu melihat kebaikan orang lain dibandingkan kebaikan yang ada di dalam dirinya. Bahwa lebih mudah melihat kekurangan diri kita sendiri dibanding melihat kelebihan yang ada. Lebih mudah pula melihat potensi orang lain daripada melihat potensi diri kita sendiri.
Lalu sibuk kesana kemari mencari sesuatu atau seseorang yang bisa melengkapi. Memberi rasa utuh. Mencari sesuatu untuk meyakinkan diri kita bahwa kita bisa. Mencari sebuah arti untuk bisa mencukupkan diri. Tanpa sadar bahwa mencari kelengkapan bukan berarti bahwa kita cacat. Namun lebih kepada memberi makna kepada hidup yang sudah dianugerahi.
Semua hanya butuh lihat ke dalam diri. Percaya bahwa Tuhan selalu ada untuk mencukupkan. Percaya bahwa hidup sudah sedemikian indah untuk diberi makna. Agar tidak lagi perlu mencari kalimat yang berbunyi :
"You can do it."
"You're good enough for this."
"We're meant to be."
"You complete me."
Bukan, bukan karena kita sudah terlalu sempurna. Namun, seringnya luput dari kita bahwa tugas utama mencari bukanlah sesuatu dari luar untuk mencukupkan kita, tetapi pencarian ke dalam. Tentu saja separuh diri kita berada di luar sana. Menunggu untuk saling menemukan. Namun, temukan dulu dirimu. Baru bisa kau temukan setengah jiwamu.
Of all the things to believe in, why not yourself?