Today
I saw a woman’s beating heart inside its rib cage. That’s something to be
grateful for. Not everyone gets to see a human’s beating heart every other day
in his or her lives.
Seorang
wanita 50 tahun dengan kelainan katup jantung yang multipel dan harus dilakukan
Mitral Valve Replacement. Dengan CTR yang hampir 70% (saya sendiri juga ngga
ngukur CTR-nya precisely, hanya lihat dari foto toraks). Sebenarnya pasien ini
bukan pasien saya. Bukan saya juga yang melakukan pemeriksaan dan planning
pra-operasi terhadap pasien ini. Pasien saya sebenarnya adalah seorang
laki-laki 47 tahun dengan Ca Laring, tetapi operasinya batal dilakukan.
Sehingga saya bisa ikutan operasi dengan teman saya yang mana pasien jantung
tersebut adalah pasien dari teman saya.
When
I saw that living and beating heart inside its rib cage, I felt so overwhelmed
I almost shed a tear. I was in awe. Saat pertama kali melihat jantung tersebut,
kata pertama yang terucap di hati adalah “subhannallah..”. I am not the most
religious person in the whole world. But when you get to see something so
beautiful like a beating heart, it’s hard not to be touched. There is nothing
more alive in this world than a human’s beating heart.
Keadaan
jantung pasien tersebut sudah sedemikian parah. Sudah terjadi atrial fibrilasi,
dan sudah membesar. Namun, masih tetap berdenyut. Seperti tidak mau menyerah.
Seperti tidak mau berhenti. Tidak bisa berhenti lebih tepatnya. Karena selemah
apapun denyutnya masih bermakna. That is called life. That is called a purpose.
Why can’t we be like that? Why can’t we be like that living and beating heart?
Bahwa dalam keadaan separah apapun masih saja berdenyut sampai Tuhan yang
menyuruhnya berhenti.
Tanpa
kita sadari ternyata kita punya tujuan di dalam diri kita. Tujuan tersebut
hidup, berdenyut, dan merasuk pada setiap detiknya. Jangan pernah berhenti.
Letakkan tanganmu di dada kirimu. Rasakan. Rasakan denyutnya yang tidak pernah
berhenti. That is called a purpose.
Medan, 9 April 2013