Jumat, 09 November 2012

Cerita Seorang Teman


Suatu ketika saya berjanji pada seorang teman bahwa saya akan menuliskan sesuatu untuk dia. Jadi, keburu janjinya ngga basi, dan ngga kelupaan, I’d better start. So here I am. Starting.

Tragedy happens. Whether we want it or not. Whether we are prepared or not. Seolah seperti percakapan monolog yang menolak kita untuk berkata tidak pada tragedi. Tragedi banyak bentuknya. Kehilangan, perpisahan, kekecewaan, segala sesuatu yang membawa kita pada titik nol. Titik awal.

Plato pernah mengatakan bahwa sejatinya pada zaman dahulu, manusia merupakan gabungan dari dua manusia. Berkepala dua, bertangan empat, dan berkaki empat. Dan manusia seperti ini merasa hebat dan “lengkap”. Manusia seperti ini merasa tidak ada lagi yang kurang dalam hidup mereka. Suatu ketika Zeus takut akan potensi manusia seperti ini, sehingga membelah manusia menjadi dua. Lalu manusia yang sudah terbelah ini dikutuk untuk mencari separuh dirinya yang lain seumur hidup.

Teman saya pernah berada pada fase manusia seperti itu. Manusia yang sudah menemukan separuh dirinya yang lain. Seperti halnya manusia yang sudah menemukan keutuhan, semuanya tampak berjalan lancar dan mudah. Apa lagi yang kurang dalam hidupmu jika berbagai macam cinta sudah kau temukan? Cinta dari orang tua dan keluargamu, cinta dari teman-teman, cinta dari Tuhan, dan cinta dari separuh diri kita yang lain. Semua harusnya lebih dari cukup. Dan semua itu menyatu dalam wadah energi dan menjadikan hidup menjadi lebih mudah untuk dijalani.

Namun, manusia hanya bisa berencana. Bahwa sepandai apapun mulut ini berbicara, dan sepandai apapun kaki ini melangkah, suatu saat akan ada kerikil atau bahkan batu besar yang akan menjegal kaki kita. Tiba-tiba teman saya harus berpisah dengan separuh dirinya yang lain karena suatu tragedi. Tragedi yang bahkan, sepandai apapun manusia memprediksi datangnya komet Haley tujuh puluh enam tahun sekali, tak mampu memprediksi datangnya perpisahan.

Perpisahan itu datang seperti gunung es yang datang entah dari mana di tengah lautan, lalu menghancurkan apapun yang menabraknya. Seperti badai yang entah datang dari mana, lalu menarik dan menggulung apapun yang dilewatinya. Aku tak suka badai. Badai selalu menghancurkan. Tentu saja, siapa yang suka?

Perpisahan tersebut datang dan membawa teman saya ke titik nol. Titik awal. Seperti layaknya titik awal, kita tidak memiliki apa-apa. Bahkan beberapa hal terasa surreal. Terasa tidak nyata. Perbatasan antara alam mimpi dan realita. Sudah tak terhitung air mata yang jatuh karena perpisahan tersebut. Sudah tak terhitung doa yang dipanjatkan semata-mata hanya untuk menguatkan diri. Bahkan untuk berdiri saja sampai linglung karena air mata sudah berhasil menggelapkan dunia.

Namun, seperti sudah kodratnya, waktu menyembuhkan semua luka. Tuhan menjawab segala doa. Langit kembali biru, dan air mata yang sempat membutakan, malah membuat mata melihat lebih jelas. Seperti halnya pelangi terlukis setelah hujan badai datang. Seperti pagi datang menjelang dan mengakhiri gulita.

Jangan bersedih lagi kawan. Ketahuilah, bahwa sebelum usai tangismu, Tuhan sudah menghitung air matamu. Bahwa sebelum kau tutup doamu, Tuhan sudah mengamini dan mengirimkan bantuannya melalui tangan-tangan yang tak terlihat olehmu. Tuhan mengerti luka hatimu bahkan lebih dari yang kau kira. Tuhan menyentuh hatimu saat kau ucapkan doa yang diiringi isak air matamu.

Pada satu saat bahagia nanti, Tuhan akan membalas semuanya dengan hal yang jauh lebih baik daripada yang kau rencanakan. Seperti kata Andrea Hirata pada novelnya, Tuhan tau tapi menunggu. Ketika waktu yang tepat tersebut datang, Tuhan akan menghujanimu dengan berkah dan kebahagiaan yang tak terkira.

8 komentar:

  1. bayakk kallli kakiya bisa sampe empatt.. setauu saya kaki mannusia cuma 2, tanngannyapun2.. gimana pennciptaannya

    BalasHapus
  2. Film mungkin.. Naik cetak.. Jadi film yg disutradarai.. Produser. Wartawan. Dan pemain serta peran.. Pemain intinya.. Polos blognya

    BalasHapus
  3. Polos dan terlalu banyak pemain jelek memang tapi yaudah itulah

    BalasHapus
  4. Tuhan yg sy sangat sibukm sedikit novelbta.. Di lapangan merdeka cova.. Adaa kann ygorg jual buku buku

    BalasHapus
  5. Pasar bukubbuku murah yg ada stasiun stasium yg ke pajakbikan.. Pajak ikan..
    Pernah k pajak ikan

    BalasHapus
  6. Pajak ikan medan tuh ada org jualan karpet.. Pajak ikan medan jualan ikan yg ada kantor antara. Kantor antara news

    BalasHapus
  7. Sm seperti bundaran. Bundara pajak ikan naaah kan adaa rel kreta api. Rel krta api............... Rel kreta dan mau ke lonsum, rsud dan ke USU. Ke USU bs dari Lonsum dan rsud.

    BalasHapus
  8. Yaudah kopernys satu sja bawanya.. Koper satuu

    BalasHapus