Rabu, 20 Februari 2013

Norma-Norma Ngga Jelas


Saya sudah selesai koas di tahun pertama dan sekarang memasuki tahun kedua. This is a big transition. Pasalnya, saya harus berganti kelompok dari kelompok saya yang pertama. But, more of that later. Kapan-kapan saya ceritakan kalau sedang mood.

Beberapa hari lalu saya cerita ke seorang sahabat. Bahwa saya merindukan berbicara dengan satu oknum. Hanya berbicara. Sejauh yang saya ingat, we used to talk about everything, but not anymore. Sahabat saya berkata, as I quote, “gue mengerti sih perasaan lo tentang ingin mengobrol dengan seseorang tersebut. Sesimpel dan senyaman bilang ‘eh apa kabar lo? Kangen deh gue pengen ngobrol sama lo!’ tanpa harus dikira genit atau malah mau ngerebut pacar orang”.

Menurut sahabat saya, kadang orang semakin tua akan semakin lupa sama hal-hal penting semacam ‘berteman’. Seringan kita mikirin gengsi, atau terikat sama norma-norma yang sebenarnya ga jelas asalnya dari mana. Nah, saya setuju banget dengan ini. Dari mana sih asalnya norma-norma ga jelas tersebut? Apa sementang keadaan sudah berubah, jarak menjadi semakin jauh, ikatan hati atau pertemanan sudah tidak seperti dulu, lantas komunikasi harus berubah? Lantas jika mencoba agar bisa berkomunikasi seperti dulu dianggap anomali?

Sedikit melenceng dari topik, hari ini saya mendapat kuliah dari pembicara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bagian Pengendalian Penyakit. Pembicara ini sangat talkative dan menarik perhatian sekali dengan konten pembicaraannya. Beliau menyatakan bahwa di pelosok desa di Sumatera Utara, banyak sekali yang belum punya jamban. Bukan tentang penduduknya tidak punya uang, justru mereka punya harta yang cukup banyak. Namun, karena adat istiadat yang secara tidak langsung menetapkan bahwa jamban itu tidak perlu, lantas mereka tidak mau membangun jamban dan berkata ‘kalo mau buang hajat ya gampang! Bisa dilakukan di bawah pohon, atau di sungai.’ Tanpa mempertimbangkan sedikit pun tentang penyakit dan hal-hal merugikan lainnya akibat BAB di sembarang tempat yang bahkan tidak usah saya sebutkan.

Satu lagi contoh dari aturan di masyarakat, norma atau adat istiadat, yang tidak jelas asalnya dari mana tapi tetap saja diikuti. Apakah menjadi terlalu tabu jika kita menciptakan aturan-aturan sendiri? Saya ingin melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan orang lain. Murni karena keinginan saya dan bukan karena ada hidden agenda dibaliknya. Apakah tabu jika saya berkata ‘eh apa kabar? Gue kangen deh ngobrol sama lo’?

11 komentar:

  1. Sumatera utara provinsi besar. Org pintar ya banyak.. Ya proses berfikir. Proroses berfikir

    BalasHapus
  2. Sumatera utara provinsi besar. Org pintar ya banyak.. Ya proses berfikir. Proroses berfikir

    BalasHapus
  3. Makannya jelaslah posisinya.
    Jng pindah pindah..
    Kalau gag sanggup atau bosan. Tidur dan istirahat.

    Dokterkan manusia juga sih

    BalasHapus
  4. Provinsi sumatrera utara kan glugur sm peringadi lah. Deket kantor poss. Bank mandiri jauh memang .. Bank mandiri kan..yg kantor utama

    BalasHapus
  5. Yaudah kopernya satu sja bawa. Gg usah banyak bsnyak

    BalasHapus
  6. Kopernya kan di tingal. Kopernya satu ajaalah

    BalasHapus
  7. yaa pembicaraa.
    pembicara kan baguss..baaguss daripada narasumber

    BalasHapus
  8. Y pembicara lebih baaguss.. cemana semiinar gak tau sumber dan tema makalah..temamakalhhh nyalah

    BalasHapus
  9. Ya pembiicaraa..kalo pembicara harus tau temaa

    BalasHapus
  10. Ya harus ada tema makalah.. pernah dulu loh aku pembicara di FK UsU..malam lagibaalik

    BalasHapus
  11. Malm malam baalikkk. loh temanya videoo.. video film dan dokumenter dokumen

    BalasHapus