Saya sudah selesai koas di tahun pertama dan sekarang
memasuki tahun kedua. This is a big transition. Pasalnya, saya harus berganti
kelompok dari kelompok saya yang pertama. But, more of that later. Kapan-kapan
saya ceritakan kalau sedang mood.
Beberapa hari lalu saya cerita ke seorang sahabat. Bahwa
saya merindukan berbicara dengan satu oknum. Hanya berbicara. Sejauh yang saya
ingat, we used to talk about everything, but not anymore. Sahabat saya berkata,
as I quote, “gue mengerti sih perasaan lo tentang ingin mengobrol dengan
seseorang tersebut. Sesimpel dan senyaman bilang ‘eh apa kabar lo? Kangen deh
gue pengen ngobrol sama lo!’ tanpa harus dikira genit atau malah mau ngerebut
pacar orang”.
Menurut sahabat saya, kadang orang semakin tua akan semakin
lupa sama hal-hal penting semacam ‘berteman’. Seringan kita mikirin gengsi,
atau terikat sama norma-norma yang sebenarnya ga jelas asalnya dari mana. Nah,
saya setuju banget dengan ini. Dari mana sih asalnya norma-norma ga jelas
tersebut? Apa sementang keadaan sudah berubah, jarak menjadi semakin jauh,
ikatan hati atau pertemanan sudah tidak seperti dulu, lantas komunikasi harus
berubah? Lantas jika mencoba agar bisa berkomunikasi seperti dulu dianggap
anomali?
Sedikit melenceng dari topik, hari ini saya mendapat kuliah
dari pembicara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara bagian Pengendalian
Penyakit. Pembicara ini sangat talkative dan menarik perhatian sekali dengan
konten pembicaraannya. Beliau menyatakan bahwa di pelosok desa di Sumatera
Utara, banyak sekali yang belum punya jamban. Bukan tentang penduduknya tidak
punya uang, justru mereka punya harta yang cukup banyak. Namun, karena adat
istiadat yang secara tidak langsung menetapkan bahwa jamban itu tidak perlu,
lantas mereka tidak mau membangun jamban dan berkata ‘kalo mau buang hajat ya
gampang! Bisa dilakukan di bawah pohon, atau di sungai.’ Tanpa mempertimbangkan
sedikit pun tentang penyakit dan hal-hal merugikan lainnya akibat BAB di
sembarang tempat yang bahkan tidak usah saya sebutkan.
Satu lagi contoh dari aturan di masyarakat, norma atau adat
istiadat, yang tidak jelas asalnya dari mana tapi tetap saja diikuti. Apakah
menjadi terlalu tabu jika kita menciptakan aturan-aturan sendiri? Saya ingin
melakukan sesuatu yang tidak biasanya dilakukan orang lain. Murni karena
keinginan saya dan bukan karena ada hidden agenda dibaliknya. Apakah tabu jika
saya berkata ‘eh apa kabar? Gue kangen deh ngobrol sama lo’?
Sumatera utara provinsi besar. Org pintar ya banyak.. Ya proses berfikir. Proroses berfikir
BalasHapusSumatera utara provinsi besar. Org pintar ya banyak.. Ya proses berfikir. Proroses berfikir
BalasHapusMakannya jelaslah posisinya.
BalasHapusJng pindah pindah..
Kalau gag sanggup atau bosan. Tidur dan istirahat.
Dokterkan manusia juga sih
Provinsi sumatrera utara kan glugur sm peringadi lah. Deket kantor poss. Bank mandiri jauh memang .. Bank mandiri kan..yg kantor utama
BalasHapusYaudah kopernya satu sja bawa. Gg usah banyak bsnyak
BalasHapusKopernya kan di tingal. Kopernya satu ajaalah
BalasHapusyaa pembicaraa.
BalasHapuspembicara kan baguss..baaguss daripada narasumber
Y pembicara lebih baaguss.. cemana semiinar gak tau sumber dan tema makalah..temamakalhhh nyalah
BalasHapusYa pembiicaraa..kalo pembicara harus tau temaa
BalasHapusYa harus ada tema makalah.. pernah dulu loh aku pembicara di FK UsU..malam lagibaalik
BalasHapusMalm malam baalikkk. loh temanya videoo.. video film dan dokumenter dokumen
BalasHapus